Rabu, 19 Oktober 2011

karma

clara

Tidak pernah aku sangka, bahwa saat seperti ini akhirnya tiba. saat dimana hanya aku dan kamu. saat dimana akhirnya aku merasakan hangatnya  tanganmu, saat aku merasakan ketenangan pelukanmu dan saat bagaimana kamu membuatku tertawa lepas karena bualanmu. menurutku inilah jawaban dari penantianku atas dirimu. kenyamanan yang aku rasakan saat bersamamu jauh lebih nyaman dibanding aku diberikan fasilitas kamar selevel istana london. detik-detik disaat kamu katakan "aku harus pergi sekarang.." aku lihat matamu dalam-dalam, tapi tatapanmu kosong ke arahku. perasaanku buruk soal ini, tapi semoga hanya perasaan.

ivan

setelah saya mohon diri darinya dan memberikan pelukan terakhir untuknya. saya nyalakan mesin mobil dan meninggalkan dirinya yang menatapku cemas. saya yang awalnya mencoba mengajaknya masuk dalam permainan saya, tapi malah saya yang terjebak sendiri. saya semakin bingung untuk mengakhiri ketika saya sadar tatapannya yang tulus menatap saya, dan perasaannya yang ternyata polos. saya dan dia adalah teman lama, dia adalah teman baik saya. jika ada hukum lawan jenis, mungkin ini dampaknya. hukum lawan jenis I : berhati-hatilah jika berteman dengan lawan jenis, karena salah satunya pasti menyimpan perasaan suka.

tadi saya memintanya membuatkan saya secangkir kopi, sebenarnya itu alibi saya untuk mengangkat telepon dari "private number" yang dari tadi menggetarkaan handphone saya. "halloo van.." sapanya saat saya akhirnya mengangkat telepon darinya. terpaku saya sejenak, tidak sangka akhirnya saya bisa mendengar lagi suara malaikatnya. suara dari sang mantan yang terkasih. dia mengajak saya bertemu malam itu juga, karena rindu alasannya. saat tadi langsung seperti ada cipratan api nakal dalam darah saya, saya pun tidak sabar ingin segera melihatnya setelah hampir setahun yang lalu kami mengakhiri hubungan kami dan semuanya benar-benar berakhir.

entah mimpi apa saya semalam, akhirnya didepan mataku aku lihat lagi malaikat ku dulu. semakin cantik dia sekarang. malam itu obrolan kami berlangsung panjang tanpa peduli waktu yang kian larut. tidak ada yang berubah terhadap dirinya, walaupun tatapannya tidak sedalam dulu saat kita masih bersama. menurut saya ini pertanda baik.

akhir minggu ini dia mengajakku menemaninya ke bandung, dia butuh seseorang untuk menyupiri mobilnya, dan menemaninya ngobrol saat perjalanan selama kurang lebih 2 jam dari kota padat ini. saya dan dia seperti pasangan sekarang, hanya berdua. tidak ada orang lain. beberapa panggilan tidak terjawab dari clara dan pesan masuk dari nya aku acuhkan. itu sudah saya lakukan sejak malam itu, saat saya dengan malaikat saya akhirnya kembali bertemu. maaf clara

tepat jam makan siang aku dan dia tiba dibandung. kami pun mampir untuk makan siang di salah satu restoran padang yang tidak jauh dari keluar tol. lalu aku bertanya tempat tujuan kami selanjutnya, dia mengajakku kearah lembang, ke sebuah restoran favorit nya untuk membooking tempat itu. aku mulai bertanya untuk apa dia kesana? dan mengapa mengajakku?

dalam perjalanan menuju lembang, obrolan diantara kami mulai sedikit. saya hanya ingin mempertahankan keheningan ini. perasaan saya mulai tidak enak sekarang. 

Ternyata benar! saat kami tiba disana, sangat saya dengar setiap kata yang keluar dari bibir mungilnya itu. Dia ingin menggunakan tempat itu untuk perayaan terbesar dalam hidupnya. pernikahan. dengan polos dia memberikan saya sebuah amplop berwarna merah hati, yang terdapat pasangan angsa menghiasi sampulnya. bodohnya saya, saya dibohongi dan dipermainkan oleh hati dan pikiran saya sendiri. kali ini dia menatap dalam mata saya, tapi saya tidak sanggup melihatnya. dia memeluk saya, saya dengar bisikannya mengucapkan kalimat maafnya dan terimakasihnya. Dan kalimat terakhir nya akan selalu saya ingat, "aku sayang kamu van". hati saya mulai bergejolak dia masih menyebutkan kalimat seperti itu disaat aku harus menerima bahwa dia akan segera menjadi milik orang lain. CIH!!. selamat untuk mu malaikatku, aku suka caramu memainkan ku, aku suka caramu berbohong untukku. saya percaya sekarang, bahwa karma itu ada.

Selasa, 18 Oktober 2011

Janjiku

Jam 5 sore, di kota yang padat ini aku gas kencang motorku, aku salip setiap celah untuk aku lewati, aku gas dengan ganas setiap ada kendaraan yang berjalan lambat, aku pasang volume musik level  tinggi, lalu berteriak-teriak aku dijalan sesuai lagu yang berputar. Peduli setan jika aku terlihat seperti orang gila, aku tahu banyak lirikan aneh padaku. Untuk ukuran jalanan yang padat hanya orang tuli dan bos-bos dimobil berlapis kaca film yang tidak dengar teriakanku. Hatiku sedang membara, jiwaku sedang liar. Tidak pernah aku sekesal ini, bukan karena orang lain, tapi aku kesal pada aku. Ya diriku sendiri. Aku  ini laki-laki berjiwa brengsek tadinya, tapi sial ada perempuan yang aku tahu dia sama brengseknya dengan ku, telah menyulapku menjadi laki-laki pengemis cinta.

Aku selalu menjadi tidak berdaya karenanya. Seberapa sering pun dia membuatku kesal, seberapa sering pun dia membuatku jengkel, herannya aku selalu menanti pesan darinya, aku selalu menanti teleponku berdering dan itu dari nya, aku selalu menanti candaan aku dengannya melalui jaringan internet saat kami berdua menjadi penunggu malam alias insomnia. AH! Kenapa aku ini?

Hari ini aku benar-benar menjadi orang lain, bukan aku yang seharusnya. Semuanya hanyalah kedokku untuk menupi perasaan yang begitu membara ini. Entah sejak kapan aku sampai begitu membara, saat lagi-lagi aku tidak dapat menolak ajakannya untuk menemaninya makan siang di tempat favorit kami, di daerah bulungan. Saat aku sedang asik menikmati waktu ku denganmu siang ini, tiba-tiba sang ayam jantanmu itu mengampiri mu, dan didepan mataku, dia memelukmu dan mengecup keningmu lalu kau berikan padanya senyum terindahmu yang sangat jarang aku lihat dan itu kau berikan kepada si ayam jantanmu itu. Hatiku mati rasa, tubuhku melayang tersesat jauh ke planet lain, rasanya benar-benar ingin aku keluar dari bumi ini. Saat itu semuanya adalah palsu. Tawaku palsu, oboralnku palsu, tatapanku palsu, semuanya palsu! pikiranku yang sebenarnya sudah berada di planet mars sampai akhirnya sebongkah meteor meledakkan pikiranku. lalu aku mencoba kembali menyatu dengan jiwaku yang sebetulnya sedang membara dan semakin membara melihat pasangan ayam ini yang sedang berkicau mesra mencoba mengajakku memasuki dunia mereka. CIH!

Aku pukul drumku sekencang-kencang sampai malaikat cinta yang merasukiku keluar dari tubuh ini karena gaduh. Iramanya kacau sesuai dengan hatiku yang sama-sama kacau. Tidak ada suara yang aku dengar selain irama kacau dari drum ku, akan terus aku pukuli drum ini sekencang-kencangnya walau ibuku berteriak, adik kecilku menangis, ayahku menggedor kamarku, ataupun sampai tetangga yang mungkin tiba-tiba berduyun-duyun sambil membawa obor memaksaku untuk berhenti dan mungkin menyeretku keluar dari perumahan ini, tragis. (maaf, pikiranku memang sedang agak berlebihan.)

Saat stick drumku mulai terpental dan terbelah jadi dua, detik itu juga aku mengakhir kacaunya permainanku. Nafasku terengah-engah, tubuhku lengket berkeringat. Lalu aku mulai berdiri dan mengambil handphonku di tas yang sengaja aku silent. Ternyata ada 10 panggilan tak terjawab, dan 1 pesan masuk. Itu semua dari nama yang sama, semuanya dari Clara. aku baca pesan darinya, "kamu dimana? :(". Ah apalagi ini, kenapa harus ada  icon sedih dibelakang nya. aku hanya menjawab "dirumah, kenapa?". beberapa detik, beberapa menit aku tunggu jawabannya dan pesannya pun masuk. "aku didepan rumah kamu van.." HAH! Aku buka jendela kamarku dan ternyata benar, aku melihat dia menatap sedih ke arahku. Langsung aku bergegas turun, lalu saat aku membuka pagar, dia langsung lari kearahku dan memeluk tubuhku. Dia menangis sesegukkan dipelukanku. Dengan suara yang masih parau clara bercerita duka, ibunya yang sedang tugas di jogja, tewas saat dalam perjalanan pulang menuju jakarta. Malam yang gelap pun menjadi kelabu. 

Aku yang brengsek ini berjanji pada perempuanku yang masih menangis didepanku, "Apapun yang terjadi, bahkan walaupun masih ada si ayam jantan mu yang telah membuatmu menjadi ayam juga saat kamu bersamanya. Aku janji selalu akan ada buat kamu clar.." -- Janji ini aku ukir pada darah yang sedang mengalir bebas ditubuhku.


Senin, 17 Oktober 2011

SUPERDad

Sebagai remaja, aku adalah seorang yang gadis yang sudah cukup banyak mengenal laki-laki. Aku memang mengakui sebagian besar dari mereka bisa dibilang brengsek. Tapi kalian tahu, hanya satu laki-laki yang aku kenal, yang aku sangat tahu dia sangat tulus menyayangiku dan jika dia menyakitiku, aku tahu itu semua karena dia sayang padaku. Laki-laki itulah ayahku. Laki-laki pertama yang aku sayangi dan akan selalu paling aku sayangi sebelum kelak aku mengenal laki-laki lain sebagai pendampingku.

Banyak cerita yang membuat karakter seorang ayah itu galak, nyeremin, nyebelin, nggak gaul, sibuk dalan karakter negatif lainnya. Tapi nyatanya Ayah yang sebenarnya yaitu ayahku adalah, galak tapi penyayang, nyeremin tapi perhatian, nyebelin tapi membanggakan. Sangat wajar jika seorang ayah itu galak, nyebelin, nyeremin karena dia adalah laki-laki, karena dia adalah pelindung.

Aku terlalu kagum dengan sosok seorang Ayah. ingin diri ini seperti dirinya, menjadi laki-laki pelindung dan bertanggung jawab. Kalian tahu kenapa aku ingin seperti dirinya?

Menurutku, ayah adalah seseorang yang memiliki banyak tanggung jawab dan Seorang ayah adalah Manusia super. Dengan memiliki banyak tanggung jawab, bisa mengakibatkan banyak pikiran, cepat lelah, bahkan melamun. Tapi seorang ayah, sebanyak apapun pikirannya, sebanyak apapun tanggung jawab ataupun masalahnya, dia enggan untuk terlalu menunjukkan kepada anaknya. Melihat anak-anaknya bahagia dan sukses adalah percikan semangat untuknya. Sebanyak apapun tanggung jawab ataupun masalahnya dia adalah Penenang dikala anaknya gusar dengan masa transisi menuju kedewasaannya. Ayah pasti punya cara yang unik, cara seorang laki-laki untuk membangun sebuah prisai kuat untuk anak-anaknya agar lebih mandiri. Sebanyak apapun pikirannya, dia selalu siap menjadi pendengar yang baik ketika anaknya mulai menemukan pengalaman dalam kehidupannya, lalu dibumbui dengan nasehat sempurna nan manjur darinya.

Bagaimana cara seorang ayah, membagi waktu, perasaan, pikiran untuk anak-anaknya adalah hal yang sangat istemewa bagiku dan aku masih menduga-duga bagaimana caranya. Ayahku adalah segala-galanya, bukan karena dia adalah orang tua satu-satunya yang aku miliki sekarang, tapi karena anak-anaknyapun juga segala-galanya untuk nya. Seberapa kalipun tangisan keluar saat aku kecil dulu, seberapa kalipun aku terjatuh, seberapa kalipun aku mengecewakannya. Hanya ayahku dan hanya ayahku orang yang selalu mengusap tangisku dengan jiwa ksatrianya, hanya ayahku yang tak lelah untuk membangunkanku disaat aku jatuh, dan hanya ayahku yang tidak akan pernah segan mengingatkanku untuk selalu menjadi manusia yang lebih baik. Terkadang aku rindu dengan ayahku karena kedekatan yang lebih dekat waktu aku masih kecil dulu. Selalu teringat gambar kecilku yang memeluk ayahku dari belakang, lalu kami pun tersenyum bahagia.

Terimakasih Ayah :)






Sabtu, 15 Oktober 2011

Rindu Masa Kecilku

Sejenak aku rebahkan tubuhku diatas alas empuk dikamarku. Melepaskan kelelahan hidup ini, sambil menghirup udara normal setelah semua ketidak normalan seharian ini. Sejak dulu salah satu sisi kamarku dengan sengaja aku penuhi dengan gambar memori kehidupan ku. Sudah lama aku tidak menengok gambar-gambar itu , sejak aku mulai mengenal kehidupan yang tidak normal ini. Kehidupan normal disini maksudku hidupku bebas tanpa harus memikirkan waktu yang membatasiku dan waktu yang tetap diam tenang berputar, tidak seperti sekarang yang tidak hentinya mengejarku.

Aku dudukan tubuhku, sebelum aku jatuh dalam perebahannya. Ingin sekali aku memandangi diriku dan beberapa orang penting didalamnya didalam sebuah gambar yang aku cetak, karena tidak mau aku melupakan semua kenangan dikala bebasku dulu. Satu-persatu aku pandangi, tersenyum-senyum sendiri melihatnya sambil mengingat kembali kejadian waktu dulu. Sampai akhirnya pandanganku terhenti pada satu foto yang warnanya mulai pudar, gambar diriku dengan... ya salah satu pria terbaik dalam hidup ku.

Saat itu umurku  5 tahun, aku dengan dia adalah teman kecil, kebetulan rumah kami sebelahan. Pria itu Vano namanya. Dulu tidak jarang aku habiskan waktu seharianku bermain bersamanya, kalau bukan aku yang main kerumahnya, ya dia yang main dirumahku. Sampai-sampai seringkali kami melewatkan waktu tidur siang kami. saat dia sedang pergi bersamanya, aku menjadi anak yang cengeng, manja dan nyebelin. itulah caraku menujunjukkan bahwa aku sedang kesepian. aku yang butuh teman. aku butuh vano.

Semakin hari, dan bergantinya tahun, kami semakin dekat. Vano adalah orang yang paling mengerti bagaimana aku, begitupun aku sangat mengerti bagaimana vano. Sampai-sampai diumur belia kami, aku dan vano membuat  kesepakatan untuk terus satu sekolah. Ketika kami menjadi siswa sekolah dasar, kegiatan yang paling kami benci adalah pramuka, menurut kami itu kegiatan konyol dan terlalu banyak aturan.

Suatu ketika sekolah kami mengadakan kunjungan ke cibubur untuk melatih jiwa pramuka kami. Ya, pada dasarnya aku dan vano adalah manusia yang menyukai kebebasan, kami suka suasana disana, banyak pohon rindang, angin sepoi-sepoi, burung-burung bernyanyi merdu, damai sekali. Akhirnya saat ada kesempatan kami melarikan diri dari kegiatan pramuka itu, dan kami agak sedikit berlari karena takut ketahuan. (Sampai saat ini aku masih ingat hangatnya tangan vano saat dia memegang tanganku pertama kali ketika kami berlari.) Berlari - tertawa - saling menggoda, mewarnai kami hari itu. sayangnya, kenakalan kami pun berakhir, seorang kakak pembina menghampiri kami, dia marah bercampur khawatir. Ternyata semua orang mencari kami.

Dengan berat hati kami harus menjalani hukuman atas kenakalan kami. Aku dan vano dijemur seharian sambil hormat kepada bendera merah putih. Lalu tiba-tiba awan mulai mendung, awalnya setetes akhirnya ribuan air hujan membasahi kami. Vano mulai meliriku dan menggodaku, dengan posisi tangan tetap hormat dan kebasahan, kami malah mengisinya dengan tawa dan ide nakal kami muncul lagi ; Kami malah bermain hujan, berlari-lari dan tertawa menikmati massa. Itu lah bahagia kami. Gambar pose kami sedang dihukum itupun aku ambil dari mading sekolah.

Tamat sekolah menengah pertama, aku diajak orang tuaku pindah ke bandung. Sejak itu aku kehilangan kabar vano. hmm Aku rindu masa polosku, aku rindu masa bebas tanpa bebanku. semakin dewasa beban hidup juga semakin bertambah. Aku rindu masa kecilku. Aku rindu Vano teramat sangat. Air mata ku pun mulai membasahi pipiku, saat aku sadar telepon genggam ku berbunyi. Ada pesan masuk:

"Hai clar, apa kabar? Vano"


Jumat, 14 Oktober 2011

Dua Hati


siapa yang ingin seperti saya?
saya mengerti sekali rasanya mencintai dan dicintai
berulangkali saya berusaha keluar dari belenggu ini
memilih salah satu diantara mereka yang terkasih
menyakiti dua orang yang paling saya kasihi, bukanlah saya
entah setan apa yang merasuki raga ini
yang saya tahu hanya nyaman dan nikmat

bagaimana saya bisa meninggalkan pasangan sesama saya
dia menyayangi saya selayaknya pasangan pada umumnya, begitupun saya?
banyak orang yang melirik aneh terhadap kami
lantas kenapa jika saya dengannya tidak senormal orang-orang yang melirik aneh terhadap kami?
apa bedanya perasaan saya dengan kalian? apa ada sebutan lain untuk kami tentang cinta?
siapa yang layak mengadili ketidak adilan ini? yang jelas bukan kalian!

siapa yang ingin seperti saya?
saya yang tidak rela melihatnya sendu,
senyum indah dari bibirnya yang menawan,
rambut hitam lurus, terjatuh lemas menghiasi wajah manisnya,
tubuhnya yang seperti gitar, melengkung seksi.
dialah bidadari surgaku.

bagaimana saya bisa meninggalkannya
tidak ada lirikan aneh, semuanya terlihat normal saat saya bersamanya
tidak rela aku meninggalkannya sendiri,
meninggalkannya sendiri, lalu membiarkan orang lain merangkul hatinya?
saya tidak akan rela! hanya saya yang berhak merangkul hatinya
tapi...

tuhaaan, apakah kamu memberikan saya dua hati?
yang telah saya berikan masing-masing untuk mereka yang terkasih
bagaimana aku harus memiliki keduanya?
bagaimana aku harus memilih salah satu diantara mereka?
bagaimana aku tanpa mereka?
bagaimana mereka tanpa aku?
*****
kepada yang terkasih, maafkan aku
aku seperti buaya yang takut pada air tapi enggan juga hidup didarat
terimasih atas cinta yang sepenuhnya untukku
aku titip hatiku pada kalian, jika besok ragaku pergi
bawa selalu jiwaku bersama kalian

salam sayang selalu dariku untuk kalian wahai kekasihku

Kamis, 13 Oktober 2011

love is a game?

Aku adalah seorang gadis remaja yang sehari-harinya berada di pergaulan laki-laki. Ya sebagian besar dari temanku adalah laki-laki. Bukan, bukannya aku tidak punya teman perempuan, tapi ketika aku berada di lingkungan lawan jenis, itu sangat terasa berbeda. Tak jarang aku menjadi perempuan "brengsek" karena itulah hasil dari aku yang bergaul dengan sebagian besar laki-laki. Tawa-tiwi duniawi yang keindahannya tidak ada janji abadi terhadap itu, aku tahu ini hanya sesaat.Tapi biarlah aku menulis dalam sejarah kehidupan ku "pernah menjadi wanita brengsek"

Kalian tahu, kenapa beberapa kali aku menyebut kata brengsek? Karena laki-laki tidak akan pusing jika ada wanita yang mereka incar menolak,  mereka punya segudang cadangan wanita lainnya. Kebetulan aku berada dilingkungan laki-laki yang mengerti bagaimana meluluhkan hati perempuan pujangga cinta.Tapi satu hal yang harus kalian tau, mereka mungkin brengsek, tapi mereka tahu cara bermain hati dengan wanita tanpa menyakiti walau penuh intrik dibelakangnya. Dunia ini keras! Kehidupan-pun sangat keras! Menurutku sebelum benar-benar ada yang namanya ikatan suci, kebrengsekan antara laki-laki -- perempuan maupun sebaliknya akan menjadi sejarah hidup yang unik.

*****
Seiringnya waktu berjalan, usai aku menyelesaikan pendidikan ku ditingkat menengah dan mengucapkan selamat datang kepada lembar kehidupan baru, yaitu ketika aku menjadi mahasiswa. Dijenjang baru ini aku mengenalnya. dia seorang laki-laki supel yang mudah bergaul, tubuhnya yang gagah, pengalamanya yang hebat. dia adalah seorang pendaki yang punya hobi fotografi, "gambar adalah memori yang terdapat banyak lisan didalamnya" katanya. Tujuan dia berpetualang yaitu melihatkan sudut dunia kepada manusia didunia ini yang dia abadikan melalui mata lensanya. 

Saling mengirim pesan dengannya telah menjadi bagian hari-hariku,  aku dan dia bisa terlihat sebagai sepasang kekasih, terkadang terlihat sebagai sahabat, terkadang bisa juga terlihat seperti teman biasa, tergantung pikiran kami yang sama-sama liar.  Perempuan pujangga cinta menyebut kisahku "itu hanya musiman" : musim kabar darinya dan nanti ada musim tidak ada lagi kabar darinya. Aku tahu itu, aku mengenalnya dan jika nanti sedang musim tidak ada lagi kabar darinya, aku tidak akan pusing seperti perempuan pujangga cinta yang mendengarkan lagu sendu, menulis kalimat rindu di situs sosial, menatap fotonya, membaca-baca kembali pesannya dan hal-hal galau perempuan pujangga cinta lainnya. Salah besar juga jika dia sang petualang itu menganggapku sama seperti perempuan pujangga cinta, aku memang kehilangan sosoknya tapi ingat dibelangkangku penuh intrik, akupun punya cadangan laki-laki brengsek lainnya.

Namun, ada satu hal yang membuat aku lega tentangnya, yaitu hanya kepadaku dia mengeluhkan keluh kesahnya yang sedang dialaminya. Lalu aku balas keluh kesahnya dengan kelembutan seorang peremuan yang dicampur kekonyolan, setidaknya aku tahu karenaku dia tertawa dan dia tahu hanya kepadaku bisa dengan nyaman bercerita. Jika ini sebuah permainan, mari kita lihat siapa yang akan memenangkan ini, siapa yang akan terjebak, aku yang terjebak dalam permainannya atau dia yang akan terjebak dalam permainanku.

 Selamat menikmati kehidupan Brengsek ini Sayang.


Rabu, 12 Oktober 2011

kasmaran



Tuk..tuk..tuk..
Bunyi detak jam yang membosankan, diiringi oleh suara orang yang sedang menyampaikan materi didepan papan tulis putih yang lebar. Walau bunyi detaknya membosankan, tapi berulang kali aku lirik bentuk lingkarannya itu dan aku harus menerima ternyata jarumnya berjalan lambat, kelas ini baru berjalan 5 menit.

Aku kembali memainkan pulpenku, mengadunya dengan meja, memasuki pelamunanku. Hingga tiba-tiba bunyi pintu kelas terbuka rusuh, memecahkan lamunanku. Berdiri didepan sana sesosok laki-laki yang terengah mengejar waktu, lalu memohon maaf atas keterlambatannya. Aku terpatung melihat sosoknya, senyumnya yang kearahku menyihirku menjadi patung, jiwaku melayang. Aku tersipu layaknya gadis kecil yang diberikan permen lolipop. Selalu dia duduk tepat dibelakangku, tak kuasa aku menahan rona yang mulai memerah di pipi ini, apalagi ketika mendengar suara seraknya menegurku, bertanya tentang materi hari itu.

Selayaknya remaja seumuranku, duduk berkelompok adalah ciri khas kami. walau aku sedang berada dalam keramaian teman-temanku, melihat wajahnya, mendengar tawa renyahnya selalu membuatku semakin terpesona dengannya."Kasmaran" begitu teman sedekadeku menyebutnys. Ya aku sedang kasmaran karenanya.

Tidak hentinya aku pamerkan senyum sumeringahku saat aku melangkah pulang, bahkan aku sangat menikmati macet dan padatnya kota ini. Hujan yang membasahi kaca angkot pun tidak membuatku kelabu. Bahagia yang hanya aku rasa. Seluruh semesta ini seperti mengalunkan sebuah musik cinta dan aku menari dibuatnya.

Sekian lama aku bernafas di dunia ini, tidak pernah aku rasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan sekarang. Aku rebahkan tubuhku ke kasur yang mulai merayuku untuk memejamkan mataku, mengiringi tidurku dengan mimpi indaaah....

*****
Suatu hari, saat aku sedang menikmati kesendirianku, aku menuju sebuah salah satu Mall mewah dikota ini. Aku berjalan mengitari tempat itu, mengujungi beberapa toko yang menarik perhatianku. Lalu aku mulai lelah dan memutuskan untuk duduk di sebuah restoran pancake, dan memesan pancake untuk mencairkan rasa gusar yang aku sendiri tidak tahu sebabnya. Saat aku memandang kosong kedepan, diantara keramain orang yang lalu-lalang di tempat itu, aku melihat seseorang, dia mengenakan polo shirt berwarna merah yang jelas aku kenal orang itu, dia berjalan kearahku, menyunggingkan senyum menawannya. Wow! ternyata dia, seseorang yang membuatku kasmaran. Aku mulai merasakan ketegangan yang melanda diriku. Akhirnya perbincangan aku dengannya mencairkan ketegangan ditubuhku, dan tidak aku sangka dia meminta kesediaanku menemaninya makan pinggiran diluar tempat itu. Tanpa pikir panjang aku meng-iyakan ajakannya. Lalu kami keluar, masih berbincang, dan penuh candaan didalamnya. Saat berjalan menuju tempat makan, tak jarang bahu kami beradu, ternyata tiada jarak lagi antara lengan ku dengan lengannya, sangat dekat. Hatiku kembali berseri. Ini seperti mimpi indah yang bewujud menjadi nyata.

Selesai menemaninya makan, kami kembali berjalan menuju tempat semula. Suasana disekelilingku seperti tidak sedang di kota yang padat dan bising. Lampu kota mengiringi langkah kami, bisingnya jalan raya mengiringi perbincangan kami, sampai aku rasakan tangannya menggenggam erat tanganku saat kami hendak menyebrang.Akupun tersipu. hangatnya genggamannya terus aku rasakan sampai dia mengantarku menuju bus kendaraanku untuk pulang. Malam itu berakhir dengan perbincangan perpisahan manis darinya. Lalu dia merangkul pinggangku dan mulai melepasnya perlahan saat aku hendak menaiki bus, kulambaikan tanganku kearahnya. 

Aku terduduk autis, senyum yang tidak hentinya merekah dari wajahku. Aku terus menekan tombol rewind dalam batinku, enggan untuk mengakhiri hari yang terlalu indah ini.